Pada saat sedang menonton berita di Televisi, saya dikejutkan oleh wafatnya anak terakhir dari Wiranto, Zainul Nur Rizki. Beliau wafat pada usia 23 tahun. Yang membuat saya tertegun adalah ketika berita tersebut menjelaskan jika anak Wiranto ini meninggal pada saat sedang menempuh pendidikan di sebuah universitas islam di Afrika Selatan. Selain itu ternyata keputusan untuk memperdalam ilmu agama islam ini tentu saja membutuhkan keikhlasan dan pengorbanan yang sangat besar.
Nah ini dia Wiranto dan anaknya
Wiranto menjelaskan jika anaknya belajar islam dalam ilmu tafsir Al-Quran tersebut merupakan proses perjalanan hidup anaknya untuk lebih mendekatkan diri pada Allah. Tanpa suatu paksaan, dan anaknya tersebut melepaskan dan mengorbankan pendidikannya di UGM jurusan hukum,yang sudah berjalan selama dua tahun. Rela melepaskan duniawi semata-mata karena Allah.
Di sini jika berpikir dari hal duniawi :
- Untuk apa sih seorang anak jenderal yang telah menempuh pendidikan selama dua tahun di sebuah universitas negeri sangat terkenal dan memang bermutu di indonesia melepaskan semua itu hanya demi pendidikan di sebuah universitas islam apa lagi daerahnya di Afrika Selatan.
- Selain itu jurusan hukum yang sudah susah payah iya tempuh selama dua tahun yang notabene latar belakang pendidikan tersebut kelak akan membawa karir masa depan yang cerah baginya apa lagi ayahnya juga memiliki latar belakang pekerjaan yang satu bidang sehingga tentu saja bisa memutuskan dan membuka karir bagi anaknya tersebut.
Di luar image wiranto yang terkenal dengan masa orde lamanya, sungguh luar biasa dan subhanallah sekali anak bungsu wiranto ini, rela melepaskan jubah duniawinya semata-mata hanya demi Allah SWT, subhanallah masih ada ternyata pemuda yang masih begitu muda memiliki pemikiran seperti itu.
CERMINAN..
Nah dari berita itu, saya semaki tertohok hatinya, what the hell. Apa yang udah saya lakuin n pikirkan selama ini. Saya hanya menunda masa depan dan keberhasilan saya di duniawi dan itu pun sementara, karena nanti ketika ayah saya sembuh saya masih bisa berusaha untuk meraihnya kembali.
Jadi begini ceritanya sudah sekitar 6 bulan ini semenjak ayah saya terkena stroke saya harus mengabdikan diri untuk ayah saya dan menunda untuk melamar kerja serta menolak tawaran kerja.Karena ibu saya harus mengajar serta tentu saja mengurus orang yang terkena stroke ini membutuhkan tenaga besar hingga tentu saja ibu saya membutuhkan saya dalam merawat Ayah.
Saya masih belum bisa sepenuhnya menerima karena kadang saya juga suka terpancing emosi dan meluapkannya kepada orang tua, astagfirullah. Padahal yang Maha Memberi rezeki adalah Allah SWT, disetiap cobaan dari-Nya selalu pasti terkandung hikmah di dalamnya. saya terkaget dan kagum sekali pada sosok anak Wiranto ini karena begitu ikhlas rela mengorbankan hal-hal yang bersifat duniawi hanya demi mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan saya hanya ditunda oleh Allah saja sementara untuk bekerja demi mengurus orang tua masih belum ikhlas sepenuhnya, masih merasa iri dengan orang-orang seumuran saya yang sudah bisa bekerja.
Padahal mungkin dengan cara orang tua saya yang terkena sakit ini, Allah memberikan jalan bagi saya untuk ibadah dan lebih mendekatkan diri pada Nya. Dan saya pun masih di beri harapan dan kesempatan oleh Nya untuk bekerja dan meraih masa depan nanti ketika ayah saya telah mampu melakukan segala sesuatunya sendiri, karena kesempatan bagi ayah saya untuk normal kembali masih sangat besar dan perkembangan itu selalu ada.
apa lagi saat ini ayah saya sudah mulai berjalan dengan tongkat. Belajar dari kejadian anak Wiranto ini saya merasa tidak ada apa-apanya serta belajar untuk menerima dengan hati yang lebih lapang dan ikhlas. Terimakasih Allah, alhamdulillah.. Love u mah n paaah.. smoooochhh